Langkah Restrukturisasi Perusahaan

Restrukturisasi Perusahaan (Corporate Restructuring) diartikan sebagai upaya melakukan pembenahan (strukturisasi) kembali perusahaan agar dapat beradaptasi dengan berbagai perubahan lingkungan bisnis yang tengah berlangsung. Dunia ini selalu berubah, tidak ada yang tinggal tetap.

Ada perubahan yang cepat ada perubahan yang lamban, ada perubahan yang baik dan ada perubahan yang buruk. Perusahaan sebagai organisasi yang hidup juga harus dinamis menghadapi setiap perubahahan dengan melakukan perubahan.

Perusahaan yang sedang mengalami pertumbuhan pesat terkadang dapat melakukan restrukturisasi sampai dua atau tiga kali dalam setahun untuk melakukan penyesuaian didalam upaya meningkatkan kinerja keuangan. Begitu pula halnya dengan perusahaan yang sedang mengalami penurunan perlu melakukan perubahan untuk mengantisipasi penurunan tersebut.

Dalam menghadapi perubahan tersebut terkadang manajemen mengambil keputusan korporasi (corporate action) seperti merger, akuisisi, go public bahkan go private. Keputusan korporasi tersebut perlu ditindaklanjuti dengan melakukan restrukturisasi perusahaan agar perusahaan berjalan dengan efisien dan efektif.

Tahap pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan restrukturisasi portfolio. Tujuan melakukan restrukturisasi portfolio adalah memperoleh modal kerja murah yang dapat dimanfaatkan untuk perbaikan kinerja keuangan. Perolehan dana internal ini memiliki biaya modal (cost of capital) yang rendah dibandingkan dengan mempergunakan kredit bank ataupun dana investor.

Restrukturisasi portfolio ini terkadang diperlukan untuk memotong sector merugi dan menekan kerugian secara komprehensif untuk dapat diperbaiki (curtailing of losses). Keputusan manajemen diambil sebagai upaya meningkatkan kinerja unit bisnis yang baik sehingga tidak terbebani dengan unit bisnis yang sakit (efficiency gain).

Sehubungan dengan hal tersebut maka direksi dan manajemen perlu melakukan penyelarasan strategi korporat sampai ke unit-unit terkecil sehingga berada dalam satu visi yang sama (realignment strategy) sebelum menyusun rencana aksi (action plan).

Adapun langkah yang perlu dilakukan dalam restrukturisasi portfolio dimulai dengan melakukan identifikasi unit bisnis. Pisahkan antara revenue centre, cost centre, profit centre dan investment centre. Revenue Centre adalah sub unit kerja yang bertugas untuk memperoleh pendapatan usaha, mengelola pelanggan dan mengembangkan usaha.

Profit centre adalah sub unit kerja yang selain bertugas untuk memperoleh pendapatan usaha sekaligus juga mengelola biaya yang diperlukan untuk memperoleh pendapatan tersebut. Cost centre adalah sub unit kerja yang bertugas untuk mengelola biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan baik biaya langsung, biaya usaha maupun biaya lain diluar usaha.

Investment centre adalah sub unit kerja yang bertugas untuk mengelola pendapatan usaha sekaligus juga biaya yang diperlukan untuk memperoleh pendapatan tersebut dalam upaya untuk pengembalian dana investasi yang telah dilakukan sampai seluruh dana investasi tersebut dikembalikan.

Caranya dengan menyusun laporan keuangan dari masingmasing unit bisnis dan mengalokasikan joint cost dan sharing cost berdasarkan kesepakatan yang rasional.

Langkah berikutnya adalah menghitung kinerja keuangan masing-masing unit bisnis. Beberapa indicator yang perlu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan namun tidak terbatas pada indicator tersebut antara lain market share (pangsa pasar), market growth (pertumbuhan pasar), pertumbuhan penjualan (sales growth), pertumbuhan laba unit (profit growth), BOPO (biaya operasional perpendapatan operasional), ROI (return on investment) dan EVA (economic value added).

Selanjutnya lakukan analisis BCG (boston consulting growth) yang membandingkan antara relative market share dengan market growth. Bagi dalam empat kuadran yang terdiri dari stars, cashcow, dogs dan question marks.

Kuadran I adalah Stars (Bintang) yakni produk atau unit bisnis yang memiliki pangsa pasar yang dominan dan pertumbuhan yang cepat serta menghasilkan uang (pendapatan) yang besar. Kuadran II adalah Cash Cows (Sapi Perah) yakni produk atau unit bisnis yang merupakan pemimpin pasar, menghasilkan uang atau pendapatan yang lebih banyak dibandingkan dengan biaya.

Kuadran III adalah Dogs (Anjing) yakni produk atau unit bisnis yang memiliki pangsa pasar rendah dan mengalami tingkat pertumbuhan yang rendah.

Kuadran IV adalah Question Marks (Tanda Tanya) yakni produk atau bisnis unit yang memiliki prospek pertumbuhan yang tinggi tetapi pangsa pasarnya masih sangat rendah.

Disamping itu lakukan juga analisis PLC (produk life cycle) untuk produk atau jasa yang kita sampaikan ke pelanggan dengan cara membandingkan tingkat penjualan berdasarkan periodic, dapat semesteran ataupun triwulanan selama 5 tahun atau 3 tahun tergantung kebutuhan.

Dari perbandingan tersebut dapat kita klasifikan produk / jasa tersebut dalam 5 cluster yakni Introduction (pioneering), penjualan yang masih rendah, volume pasar berkembang lambat, persaingan yang masih relatif kecil, tingkat kegagalan relatif tinggi. Rapid growth (market acceptance) adalah penjualan serta juga laba akan meningkat dengan sangat cepat disebabkan permintaan sudah sangat meningkat.

Slow growth (turbulance) adalah pertumbuhan melambat, pesaing baru masuk dalam pasar. Maturity (saturation), tercapainya titik tertinggi dalam penjualan perusahaan. Decline (obsolescence), Penjualan perusahaan yang semakin bergerak ke arah penurunan.

Berdasarkan hasil analisis tersebut kemudian kita selaraskan visi/misi dan strategi perusahaan dengan strategi unit bisnis. Mengacu kepada indicator kinerja keuangan maka bandingkan kontribusi dari masing-masing unit bisnis terhadap korporat. Periksa ketersinggungan antara perusahaan dengan unit bisnis. Selanjutnya kita tetapkan rencana aksi yang harus dibuat untuk masingmasing unit bisnis dan satukan dalam perencanaan bisnis perusahaan jangka panjang.

Tahap selanjutnya dalam melakukan restrukturisasi  perusahaan adalah melakukan restrukturisasi keuangan. Tujuan dari restrukturisasi keuangan adalah memperoleh laporan keuangan yang sehat dan kokoh; Memperbaiki kinerja keuangan korporat; Mengidentifikasikan mismanagement dan management fraud; Memampukan bisnis menjadi lebih terintegrasi dan menguntungkan yang pada akhirnya akan meningkatkan nilai perusahaan (value of the firm). Caranya dengan melakukan analisis LSRAM yakni analisis likuiditas, solvabilitas, rentabilitas, aktivitas dan manajemen.

Berdasarkan analisis tersebut kemudian disusun rencana restrukturisasi hutang dan upaya peningkatan kinerja keuangan lainnya. Prinsip dasarnya adalah mencari sumber pembiayaan yang lebih murah dengan syarat yang lebih ringan.

Disamping itu, proyek pekerjaan jangka pendek sedapat mungkin dibiayai oleh pendanaan jangka Panjang. Prinsip terakhir adalah rencana exit strategy dari pendanaan pihak ketiga.

Pengelolaan cash flow dan working capital merupakan darah bagi perusahaan. Khususnya perusahaan di bidang jasa yang memerlukan modal kerja yang memadai untuk melaksanakan pekerjaan maka merupakan tugas direktur keuangan untuk mempersiapkan modal kerja dan bank garansi untuk kebutuhan pembiayaan proyek pekerjaan.

Sumber pembiayaan yang paling murah adalah sumber internal, baik dengan mempercepat penagihan piutang maupun menjadwalkan kembali pembayaran kepada vendor.

Bila dibutuhkan jumlah yang lebih besar umumnya dipergunakan sumber internal lainnya seperti pelepasan asset baik asset tetap maupun pelepasan unit bisnis. Langkah ini kurang disukai pemegang saham karena menyebabkan penurunan skala usaha dan pengendalian bisnis.

Untuk perusahaan yang memiliki nilai asset tetap yang besar, umumnya pemegang saham lebih menyukai untuk mengagunkan asset tetap ke pihak bank.

Untuk perusahaan yang tidak memiliki asset tetap biasanya mengagunkan kontrak jangka Panjang dan proyeksi cash inflow kepada pihak ketiga. Tentu saja ada premi risiko yang harus ditambahkan kepada unsur beban bunga.

Dana yang diperoleh dapat dikelola untuk melakukan pembiayaan proyek pekerjaan yang diharapkan dapat memberikan keuntungan yang signifikan untuk melunasi kewajiban bunga dan pokok.

Terdapat beberapa perusahaan yang lupa untuk menyusun rencana exit strategy dan tidak memupuk sinking fund yang diperuntukan bagi penyelesaian kewajiban pokok. Akibatnya ketika kewajiban tersebut jatuh tempo perusahaan mencari sumber pendanaan baru untuk menyelesaikan kewajiban yang sebelumnya. Gali lobang tutup lobang. Hal ini dapat menyebabkan perusahaan terpuruk didalam lobang yang dia gali sendiri.

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk melepaskan diri keterikatan kewajiban masa lalu yakni dengan melakukan restrukturisasi hutang maupun dengan restrukturisasi ekuitas.

Restrukturisasi hutang dapat dilakukan dengan melakukan penjadwalan kembali hutang jangka Panjang dengan atau tanpa agunan, penjadwalan kembali hutang jangka pendek dengan atau tanpa agunan dan penjadwalan kembali hutang jangka pendek lainnya.

Penjadwalan kembali tersebut bukan hanya mencakup perhitungan beban bunga namun juga termasuk perhitungan angsuran pokok. Ada yang dilakukan dengan melunasi sebagian ada pula yang dilakukan dengan membuat perhitungan pembiayaan baru. Hal ini dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan keuangan perusahaan saat itu.

Selain melakukan restrukturisasi hutang, terdapat pula metode melakukan restrukturisasi ekuitas. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan Debt to Equity Swap ataupun Quasi Reorganisasi atau sekaligus keduanya. Debt to Equity Swap adalah mengalihkan hutang yang tertunggak menjadi penyertaan saham sesuai dengan nominal hutang.

Untuk perhitungan bunga tertunggak, ada yang ikut ditambahkan menjadi nilai saham namun ada pula yang tetap harus dilunasi secara angsuran. Biasanya saham yang diterbitkan adalah saham biasa tanpa hak suara dan tanpa hak dividen dan akan dibuy back secara berangsur. Khusus untuk perbankan, mengacu pada Peraturan OJK maksimal 5 tahun.

Selanjutnya dilakukan quasi reorganisasi, yakni dengan melakukan revaluasi atas asset yang dimiliki perusahaan dan diperhitungkan dengan nilai ekuitas negative perusahaan sehingga diperoleh nilai bersih ekuitas.

Tahap selanjutnya adalah melakukan restrukturisasi organisasi perusahaan. Tujuan melakukan restrukturisasi organisasi dari sisi Internal adalah untuk meningkatkan gross margin, meningkatkan komunikasi internal, memperbaiki arus kas, memperbaiki proses disain yang memadai dan menekan biaya upah.

Sedangkan tujuan restrukturisasi organisasi dari sisi eksternal adalah untuk mempertemukan kebutuhan pelanggan, menerapkan strategi untuk mengantisipasi perubahan pasar yang pada akhirnya untuk meningkatkan pangsa pasar.

Prinsip dasar dalam melakukan restrukturisasi organisasi adalah penyederhanaan (simplifikasi), keselarasan (alignment) terhadap strategi perusahaan dan focus pada tujuan yang lebih baik.

Disamping itu restrukturisasi organisasi diharapkan dapat menyeimbangkan antara beban kerja dan tanggung jawab serta serta memberi peran yang lebih baik bagi setiap unit kerja. Perhatikan prinsip-prinsip pengelolaan risiko dan pengendalian (Governance Risk and Control / GRC).

Langkah pertama dalam melakukan restrukturisasi organisasi adalah dengan mendefinisikan perubahan yang terjadi dan menyelaraskan dengan visi/misi serta strategi perusahaan yang baru. Lakukan identifikasi unit kerja yang harus dirubah dan uraikan tujuan dilakukannya perubahan.

Selanjutnya diuraikan kembali rangkaian proses operasional dari awal hingga akhir, tetapkan unit kerja yang terkait dan hitung beban kerja yang harus dilaksanakan serta tanggungjawabnya. Langka selanjutnya adalah menghitung dampak perubahan tersebut dan hal apa saja yang akan terpengaruh bila dirubah.

Apakah ada dampak perubahan tersebut terhadap produk, pelanggan atau pembiayaan yang secara signifikan mempengaruhi perusahaan secara jangka Panjang. Perlu dibuat sosialisasi / diseminasi mengenai perubahan tersebut terutama bila langkah yang ditempuh adalah rasionalisasi karyawan.

Komunikasikan kepada setiap pihak terkait bahwa perubahan tersebut penting untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Tujuannya bukan agar program tersebut dapat. diterima setiap pihak namun setidaknya untuk meminimalkan dampak penolakan dari karyawan.

Dari struktur organisasi yang direstruk tersebut kemudian dilakukan analisis compreq (kompetensi requirement). Berdasarkan hasil perhitungan tersebut disusun rencana pelatihan dan sertifikasi yang diperlukan serta program coaching dan mentoring untuk setiap karyawan yang dimutasi.

Pada saat masa transisi terkadang ada unit kerja yang dianggap tidak mampu untuk menyelesaikan penugasan yang baru sehingga perlu dibantu oleh unsur pendukung. Unsur pendukung tersebut dapat berupa konsultan lepas maupun dukungan kantor pusat selama jangka waktu
tertentu.

Untuk itu perlu dibuatkan nota dinas Direksi sehingga bila terjadi kegagalan tidak sepenuhnya ditimpakan kepada unit kerja yang bersangkutan. Segera setelah proses restrukturisasi organisasi diselesaikan agar dibuatkan laporan pelaksanaan dan evaluasi restrukturisasi organisasi.

Dalam laporan pelaksanaan dan evaluasi tersebut setidaknya memuat antara lain keselarasan dengan Strategi korporasi. Bila diperlukan dapat diusulkan untuk menetapkan visi baru untuk masa depan perusahaan yang lebih sesuai dengan perubahan yang ada.

Laporan tersebut juga perlu memuat Teknologi terapan yang diperlukan, system baru yang akan diterapkan dan investasi teknologi yang memadai untuk hal tersebut sehingga perusahaan dapat lebih memiliki daya saing pasar. Laporan juga harus menguraikan Struktur organisasi serta system prosedur operasional yang baru dan keselarasan dengan perubahan manajerial yang ada.

Dari laporan tersebut diungkapkan mengenai dampak perubahan terhadap karyawan (people) sehingga diharapkan dapat menciptakan situasi yang lebih kondusif yang dapat meningkatkan motivasi kerja sehingga kinerja perorangan juga meningkat.

Tahap selanjutnya dari Restrukturisasi Perusahaan adalah restrukturisasi operasional. Tujuan dari pelaksanaan restrukturisasi operasional adalah mengelola berbagai harapan stakeholders, misalnya customer menginginkan barang yang berkualitas tinggi dan pengiriman tepat waktu atau vendor menginginkan pembelian yang terjadwal dan pembayaran tepat waktu.

Dengan melakukan restrukturisasi operasional diharapkan dapat menyajikan cara yang fleksibel untuk meningkatkan profit margin. Misalnya penggunanaan teknologi tepat guna atau jangka waktu penyimpanan dan pengiriman yang lebih singkat. Dengan demikian perusahaan dapat memaksimalkan efisiensi serta memelihara arus kas yang memadai.

Langkah pertama yang perlu dilakukan dalam melakukan restrukturisasi operasional adalah Stabilkan kinerja dan likuiditas. Dengan tingkat penjualan yang optimum maka dilakukan stabilitasi kapasitas produksi.

Dalam titik penjualan tersebut diukur tingkat kinerja dan kebutuhan likuiditas yang ada. Caranya dengan melakukan analisis situasi dan analisis keuangan dengan teliti. Lakukan dengan menghitung siklus produksi dan siklus keuangan.

Kalkulasikan kebutuhan bahan baku, hitung tenggang waktu penyimpanan, analisis biaya pengiriman, hitung kebutuhan modal kerja, bandingkan antara term of payment dengan collection period.

Bila dari hasil perhitungan disimpulkan bahwa aktivitas di unit kerja tersebut tidak menguntungkan maka dapat dipertimbangkan opsi turnaround. Dalam melakukan restrukturisasi perusahaan perlu menerapkan manajemen perubahan. Hal ini diperlukan untuk mengelola perubahan tersebut dan meminimalkan dampak dari perubahan.

Strategi dalam melakukan manajemen perubahan hanya ada tiga yakni melakukan transformasi, memilih opsi turnaround ataupun menerapkan manajemen krisis.

Transformasi adalah menyangkut bagaimana merubah sesuatu yang kelihatan mapan menjadi selalu siap siaga. Transformasi ini adalah perubahan pada saat mantap, ajeg, anteng, merasa aman nyaman dan sukses dan ada di comfort zone.

Opsi Turn around adalah kondisi dimana sudah hampir terlambat, persoalan-persoalan mulai pelik. Namun tetap punya waktu cukup dan ruang yang luas untuk berubah dan memutar arah. Segera cari solusi jangka menengah. Ada pihak ketiga yang bisa diandalkan, Dalam waktu yang agak singkat, dengan keyakinan yang tinggi, kita dapat putar arah.

Manajemen Krisis adalah kondisi dimana pengambilan keputusan strategis harus dilakukan dengan maksimal dan radikal. Krisis sebenarnya justru memberikan peluang dan kesempatan bagi mereka yang berpikir jernih dan berani.

Pada saat krisis, mayoritas orang cenderung bertindak dengan penuh keragu-raguan dan kacau. Namun orang yang jernih dan punya keberanian akan tampil mengambil kesempatan, memimpin diri sendiri, mengambil alih peran pemimpin.

Bila opsi turn around dipilih maka unit kerja yang ada baik itu berupa lini pabrik, strategic bisnis unit ataupun anak perusahaan harus dipersiapkan sedini mungkin untuk menerima konsekuensi ditutup. Bagi dokter bedah, amputasi merupakan pilihan terakhir yang dapat diambil bila tidak terdapat pilihan lain yang lebih baik.

Dalam melakukan kalkulasi siklus produksi dan siklus kas perlu menerapkan Robbust planning dimana tiap-tiap alternative proses dihitung secara algorithme dan hasilnya diperbandingkan dengan simulasi Monte Carlo.

Hal ini dapat diberlakukan bukan hanya untuk proses produksi pabrikasi maupun supply management chains melainkan dapat diterapkan juga dalam usaha jasa termasuk juga usaha perbankan.

Tujuannya adalah menekan siklus produksi dan siklus kas dengan merencanakan ulang proses produksi melalui karakteristik yang lebih baik dari tingkat kinerja layanan yang diharapkan dalam horizon jangka menengah.

Robbust planning dikategorikan sebagai Tactical Demand Chain Planning, yakni perencanaan pemenuhan rantai permintaan yang didasarkan pada metode Pure Deterministic Planning.

Dalam kondisi perekonomian saat ini dengan ketidakpastian informasi perencanaan yang cukup besar maka harus dilakukan perencanaan ulang disain siklus untuk mengurangi lama proses penyelesaian.

Hal ini dilakukan melalui karakteristik yang lebih baik dari kinerja service level yang diharapkan sehingga diperoleh disain siklus yang lebih baik. Selanjutnya disusun Standar Operasi dan Prosedur yang sederahana namun mudah dimengerti untuk mendokumentasikan perubahan disain siklus tersebut dan melakukan sosialisasi kepada seluruh unit kerja terkait.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memaksimalkan penerapan Robbust plan dan meminimalkan siklus produksi adalah dengan membuat rencana ‘akurat’ yang menggabungkan semua aturan bisnis Anda dan memenuhi tujuan bisnis Anda.

Hal berikutnya adalah memperhitungkan kejadian yang tidak diharapkan (Expect the unexpected). Hal terakhir adalah bereaksi dengan cepat dan efektif terhadap gangguan saat menerapkan perubahan.

Demikian penjelasan atas langkah-langkah penerapan 4 tahap corporate restructuring. Dengan memahami tahapan corporate restructuring tersebut diharapkan perusahaan dan organisasi dapat lebih luwes dan fleksibel untuk menghadapi setiap perubahan yang terjadi.

Penulis : DR. Dayan Hakim NS, SE, AK, MM, CA, BKP, BCMP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *